Studi dilaksanakan di empat kecamatan daerah sentra produksi jagung dan ubikayu di Kabupaten Tuban, yaitu Kecamatan Tuban, Montong, Plumpang dan Palang. Teknologi yang dikembangkan adalah pembuatan tepung ubikayu komposit, tiwul instan, tortila jagung, dan kerupuk dari tepung kasava, menggunakan alat prosesing dengan penggerak mesin diesel skala kecil. Potensi jagung dan ubikayu di Tuban masing-masing sebesar 3.026.937 kwt. dan 1.277.291 kwt. Seluruh produksi jagung maupun ubi kayu masih dijual segar, hanya sedikit yang diolah menjadi produk olahan. Kegiatan usaha pengolahan yang sudah ada di wilayah Tuban antara lain usaha pengolahan ”marning” jagung dengan jumlah sebanyak 5 unit, pengolahan kerupuk dengan jumlah sebanyak 20 unit, pengolahan tape sebanyak 100 unit, dan pengolahan keripik sebanyak 20 unit. Belum ada yang melakukan pengolahan berbahan baku tepung kasava. Demikian pula belum ada yang melakukan pengolahan tortilla maupun yang berbahan baku tepung jagung. Pembuatan tiwul instan dengan tambahan tepung kacang hijau 20% adalah produk yang paling disukai karena mempunyai warna menarik, tekstur kenyal dan rasa lebih gurih dibanding dengan tiwul tanpa tambahan. Tiwul dengan tambahan tepung kedelai, kacang hijau dan kacang tunggak berturut-turut mempunyai kandungan protein 7,31%; 6,09% dan 5,97%, lemak 1,07%; 1,35% dan 1,33%, serta serat kasar 4,01%; 5,76% dan 5,93 %.
Hasil analisis ekonomi menunjukkan tiwul dengan tambahan tepung kedelai, kac. hijau dan kacang tunggak memberikan keuntungan Rp. 19.350,-; Rp. 30.600,- dan Rp.12.600,- per 50 kilogram gaplek. Tortila dengan bumbu masak (MSG) dan garam disukai oleh konsumen dengan kadar air 1,29%, abu 1,88%, protein 7,60%, lemak 24,49% dan karbohydrat 64,74 %. Pengemasan dengan plastik sudah cukup baik dengan memberi keuntungan sekitar Rp.2.000,-/kg jagung. Kerupuk dengan bahan tepung komposit kedelai dan kacang hijau lebih disukai konsumen daripada tepung ketela pohon tanpa tambahan tepung kacang-kacangan, dilihat dari warna, tekstur dan rasa