Harga CPO pernah mengalami kenaikan drastis saat perang teluk terjadi tahun 1992, krisis moneter Asia tahun 1998, dan kenaikan harga minyak mentah dunia tahun 2007-2008. Saat ini harga CPO jatuh karena variabel utama minyak mentah dunia turun. Dengan harga minyak bumi yang sempat mencapai 51 AS dolar per barel, secara otomatis permintaan CPO dunia pun turun. Lebih lanjut, dia mengatakan, prospek pemanfaatan kelapa sawit untuk menggantikan minyak bumi di masa depan semakin besar dan tidak dapat terhindarkan. Namun, kenaikan harga kelapa sawit bukan hanya karena adanya permintaan saja, tetapi lebih karena kebutuhan energi. Untuk menjaga agar harga jual CPO tidak jatuh terlalu dalam seperti beberapa waktu lalu yang hanya mencapai kisaran 385 AS dolar per ton maka perlu ada manajemen suplai, ujar dia. Tentu manajemen suplai menjadi semacam keran untuk dapat mengontrol jumlah CPO di pasaran, sehingga harga dapat dikendalikan dan tidak terlalu jatuh. Paling tidak petani sawit terlindungi dan terhindar dari belitan hutang yang terkadang harus mereka pinjam sebagai biaya perawatan sawit.
Langkah lain yang perlu dilakukan agar harga jual CPO yang wajar dapat tercipta adalah dengan cara mengangkat "demand" di dalam negeri. Dengan adanya penyerapan yang lebih banyak di dalam negeri tentu harga jual CPO dapat terangkat, baik produsen hingga petani sawit akan tertolong.
Hal terakhir yang juga dapat dilakukan untuk menciptakan harga CPO yang wajar adalah dengan melakukan peremajaan perkebunan. Peremajaan pohon kelapa sawit perlu dilakukan agar produksi TBS tetap terjaga.

