Laporan tersebut menjelaskan bahwa ada banyak dan beragam pendorong utama krisis pangan dunia tahun ini, yang menyebabkan harga beras meningkat dari 400 dollar AS per ton pada awal tahun menjadi 1200 dollar AS per ton pada Mei sebelum turun menjadi 730 dollar AS per ton minggu lalu, namun masalah pasokan yang terus terjadi, menjadi kekuatan utama yang mendorong terjadinya lonjakan harga.
ADB menengarai hal itu diakibatkan oleh penurunan investasi publik di bidang infrastruktur, lembaga dan inovasi yang mendukung pertumbuhan produktivitas pertanian.
Laporan itu memproyeksikan, harga bahan pangan tidak akan turun ke tingkatan seperti sebelum tahun 2008, paling tidak hingga beberapa waktu ke depan karena jika negara-negara mulai berinvestasi pada sektor pertanian sekalipun, diperlukan panen yang baik selama beberapa tahun untuk bisa membangun kembali stok biji-bijian dunia yang menurun.
"Untuk melakukan hal ini, harga yang diterima petani untuk produksi mereka harus tetap tinggi terutama karena harga input pertanian meningkat bersamaan dengan meningkatnya harga minyak. Harga pupuk misalnya melonjak, transportasi dan harga bahan bakar untuk peralatan pertanian juga naik," kata Ali.
"Dunia saat ini menyaksikan perubahan pola, dengan turunnya harga bahan makanan dalam tiga dekade terakhir, dan prospek tingginya harga bahan makanan dalam dekade ke depan dan seterusnya. Asia harus melakukan reformasi struktural untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan langkanya sumber daya."

