sampai Agustus 2008, ekspor nonmigas Indonesia mencapai 73.543,6 juta dolar atau naik sekitar 22,38% dibanding capaian periode Januari-Agustus 2007. "Kita patut bersyukur kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada para petani, serta para pihak terkait lainnya, termasuk pemerintah daerah," ungkap Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Dia berharap kinerja yang baik ini dapat terjaga dan bisa ditingkatkan lagi. Angka pertumbuhan ekspor 44,01% memang lebih rendah dari catatan sebelumnya yang mencapai 50,13% (Juli) dan 48,54% (Mei). Meski begitu, pertumbuhan ekspor pertanian tetap lebih baik dari kinerja sektor lainnya. Sebagai contoh, sektor perindustrian pada periode yang sama tumbuh 22,57%, dan sektor pertambangan tumbuh 15,32%.Sampai Agustus 2008, nilai ekspor sektor pertanian meningkat dari 2.283,6 juta dolar menjadi 3.288,5 juta dolar. Akan lebih baik lagi, jika semua ekspor komoditas berbasis pertanian diperhitungkan. Sebagai contoh bila ekspor komoditas lemak hewan dan minyak nabati serta karet dan barang dari karet dijumlahkan, nilai ekspor selama periode Januari-Agustus 2008 mencapai 16.211,1 juta dolar juta dolar. Atau naik 70,25% dari capaian ekspor komoditas pertanian pada periode yang sama tahun 2007 yang mencapai 9.522,2 juta dolar.
Memasuki triwulan I 2008, nilai indeks tendensi bisnis sektor pertanian mencapai rekor 126,29. Indikator optimisme bisnis ini terbilang paling tinggi dibanding sektor lain. Di tengah tekanan ekonomi akibat krisis harga BBM, secercah harapan datang dari sektor pertanian. Pada 2008 produksi padi diprediksi meningkat 4,76%, jagung 11,79%, dan kedelai 22,11%. Mentan berharap, peningkatan kinerja ekspor tersebut tak sekadar menambah devisa negara. Lebih dari itu, prestasi ini bisa membuat kita lebih optimis dalam membangun bangsa dan negara. "Yang tak kalah penting, semoga para petani, bisa lebih sejahtera," tegas Anton.

